Tuesday, December 13, 2011

Message of Peace to Pope Benedict



6th December 2011

PRESS RELEASE
World Muslim leader sends Message of Peace to Pope Benedict
World should judge religions on their true teachings
The Head of the Ahmadiyya Muslim Jamaat, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad has sent a direct message to Pope Benedict XVI calling for the Pope to use his influence to encourage religious tolerance and the establishment of human values throughout the world.
The message was delivered personally by the President of the Ahmadiyya Muslim Jamaat in Kababir, Muhammad Sharif Odeh, who met the Pope as part of an official delegation of renowned Israeli religious scholars.
In his message, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, spoke of the perilous state of the world. He said:
“It is with regret that if we now observe the current circumstances of the world closely, we find that the foundation for another world war has already been laid. As a consequence of so many countries having nuclear weapons, grudges and enmities are increasing and the world sits on the precipice of destruction.
I believe it is essential, that we urgently increase our efforts to save the world from this destruction. There is an urgent need for mankind to recognise its Creator as this is the only guarantor for the survival of humanity.”
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad also said that the world should judge religions on their true teachings, not on the misguided acts of individuals or groups. He said:
“If a person does not follow a particular teaching properly whilst claiming to subscribe to it, then it is he who is in error, not the teaching.
From cover to cover, the Holy Qur’an teaches love, affection, peace, reconciliation and the spirit of sacrifice. Hence, if anybody portrays Islam as an extreme and violent religion filled with teachings of bloodshed, then such a portrayal has no link with the real Islam.”
Speaking about the role of the Ahmadiyya Muslim Community, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad said:
“The Ahmadiyya Muslim Community practises only the true Islam and works purely to please God Almighty. If any Church or other place of worship stands in need of protection, they will find us standing shoulder to shoulder with them. If any message resonates from our mosques it will only be that of Allah is great and that we bear witness that there is none worthy of worship except Him and Muhammad (peace be upon him) is the Messenger of Allah.”
His Holiness concluded by praying for world peace and urging all other parties to play their respected roles for this all important pursuit. He said:
“It is my prayer that we all understand our responsibilities and play our role in establishing peace and love, and for the recognition of our Creator in the world. We ourselves have prayer, and we constantly beseech Allah that may this destruction of the world be avoided. I pray that we are saved from the destruction that awaits us.”
22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: 020 8544 7613 Mob: 077954 90682 Email: press@ahmadiyya.org.uk

Press Secretary AMJ International
Short URL of this page to share: www.alislam.org/e/1472


Thursday, December 1, 2011

Dutch Government Defends Ahmadiyya Muslim

http://www.alislam.org/egazette/press-release/report-dutch-government-defends-ahmadiyya-muslim-jamaat-from-false-allegations/


29th November 2011

PRESS RELEASE
REPORT: Dutch Government Defends Ahmadiyya Muslim Jama’at from false allegations
Ahmadiyya Muslim Jamaat abhors all forms of terrorism
On 19 October 2011, the Ahmadiyya Muslim Jamaat issued a Press Release entitled World Muslim Leader sends warning to Dutch Politician Geert Wilders (copy attached in PDF).
The Press Release was based on a Friday Sermon delivered by Hadhrat Khalifa-tul Masih V (aba) , Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, in Holland on 14 October 2011. During the Sermon, His Holiness warned the opponents of Islam, and in particular Mr Geert Wilders, about the consequences of their lies and false propaganda about Islam and the Holy Prophet Muhammad (saw).
His Holiness also used the Sermon to praise the efforts of Queen Beatrix to promote interfaith harmony and tolerance.
Following the publication of the Press Release, Geert Wilders who is the leader of the PVV Party in Holland took notice of its issue and in response sent the following three questions to Holland’s national Interior Ministry:
1.     Are you (the Interior Ministry) familiar with the article ‘World Muslim Leader sends warning to Dutch Politician Geert Wilders’ ?
2.     (Hadhrat) Mr Masroor Ahmad has said ‘ Listen carefully, you, your party and every other person like you will ultimately be destroyed…? What measures does the Interior Ministry plan to take against this Islamic organisation calling for violence?
3.     How is the Ahmadiyya community in the Netherlands related to the Ahmadiyya Muslim Community worldwide and to (Hadhrat) Mr Masroor Ahmad?
In response the following answers were given by the Dutch Interior Minister:
1.     Yes (I am familiar with the article).
2.     According to the Press Release, (Hadhrat) Mr Masroor Ahmad said that such people or groups are not destroyed by violence or other secular activities, but through prayer. In the remarks I see nothing that incites or calls for violence, so I see little cause for any action against the Ahmadiyya Muslim Jamaat.
3.     The Dutch Ahmadiyya Muslim Community is part of the worldwide Ahmadiyya Muslim Jamaat.
(These responses were reported by the Nieuws Press Agency in Holland on 14 November 2011.)
The Ahmadiyya Muslim Jamaat takes this opportunity to thank the Dutch Interior Ministry for fully studying the contents and context of the Press Release issued on 19 October 2011.
The Ahmadiyya Muslim Jamaat abhors all forms of terrorism and categorically rejects all sectarian or religious violence.
Whilst it is true, that the Ahmadiyya Muslim Jamaat takes every opportunity to defend true Islam, it does so only through entirely peaceful means and through prayer. It also condemns in the strongest terms those so called Muslims who misrepresent true Islam as a religion of violence and extremism.
22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: 020 8544 7613 Mob: 077954 90682 Email: press@ahmadiyya.org.uk


Press Secretary AMJ International
Short URL of this page to share: www.alislam.org/e/1458

Friday, November 25, 2011

Malfoozaat Jilid 1_08

MALFOOZAAT

HAZRAT MASEEH MAU’UD ALAIHISSALAM

>>>>>>>>>>>>>>> <<<<<<<<<<<<<<<

KESEMPURNAAN AJARAN BERLAKU SECARA
PERLAHAN-LAHAN

Insan membuat kemajuan dalam jalan ini secara perlahan-lahan dan berperingkat-peringkat. Jika ajaran ini sama seperti Injil yang mana apabila ditampar di sebelah pipi maka pipi yang sebelah juga harus dipersembahkan, atau memberikan segala-galanya, maka akibatnya ialah orang Islam juga sama seperti orang Kristian yang tidak dapat mengamalkan ajarannya dan terhindar dari mendapat ganjaran. Tetapi, Al-Qur’an Syarif  berkembang sedikit demi sedikit sesuai dengan fitrat manusia. Perumpamaan Injil ialah seperti seorang budak yang masuk ke sekolah dan dia dipaksa membaca buku yang begitu susah. Allah Ta’ala itu Hakiim. Tuntutan kebijaksaan-Nya ialah kesempurnaan ajaran adalah secara berperingkat-peringkat.

Untuk orang Muttaqi dikatakan: WALLADZIINA YU’MINUUNA BIMAA UNZILA ILAIKA WAMAA UNZILA MIN QOBLIKA WA BIL AAKHIROTI HUM YUUQINUUN (Al-Baqarah:5) yakni orang muttaqi itu beriman kepada kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan kitab yang diturunkan ke atas engkau, dan yakin pada yang akhir. Perkara ini tidak bebas dari kerja keras. Setakat ini iman masih dalam keadaan berhijab. Di mata orang muttaqi belum ada makrifat dan bashirat. Dengan memerangi syaitan, sehingga kini dia telah menerima satu perkara dari ketakwaan. Inilah keadaannya jemaat kita waktu ini. Mereka juga telah menerima taqwa. Namun, setakat ini mereka belum mengetahui sejauh mana jemaat ini dipelihara oleh tangan Ilahi. Jadi, ini satu bentuk iman yang akhirnya memberi manfaat yang besar.

Apabila lafaz yakin digunakan secara biasa, maka ia bermaksud darjah yang paling rendah, yakni dalam tingkatan ilmu, ia masih dalam tingkat yang terendah iaitu ilmul yakin. Pada tahap ini ia diperingkat ittiqa. Tetapi, selepas itu ia akan merentasi peringat yang lebih tinggi iaitu ainul yakin dan haqqul yakin setelah melalui jalan taqwa.

Taqwa bukan satu benda yang kecil. Melalui taqwa itulah semua syaitan-syaitan dapat diperangi. Insan yang menguasai setiap kekuatan dalamannya, dalam keadaan nafsu ammarah masih ada syaitan dalam dirinya. Jika tidak dapat diperbaiki maka insan akan menjadi hamba. Ilmu dan akal yang digunakan dengan cara yang buruk akan menjadikannya syaitan. Tugas seorang muttaqi ialah memastikan ilmu dan akalnya serta segala kekuatan lain dalam keadaan betul.

MAZHAB YANG BENAR ADALAH MURABBI
KEKUATAN INSAN

Demikian juga orang yang menganggap buruk akan balasan, kemurkaan dan pernikahan dalam setiap keadaan, mereka itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan berperang dengan kekuatan insan. Mazhab yang benar adalah mazhab yang menjadi murabbi kepada kekuatan insan dan bukan yang menghancurkan mereka. Kelelakian dan kemurkaan yang diletakkan oleh Tuhan dalam fitrat seorang insan, meninggalkannya bererti melawan Tuhan, seperti orang yang meninggalkan urusan dunia atau menjadi rahib. Semua perkara ini menghapuskan hak-hak hamba. Jika perkara ini adalah seperti itu, maka ada bantahan untuk Tuhan yang telah melahirkan kekuatan ini dalam diri kita. Jadi, ajaran seperti itu yang terdapat dalam Injil dan mana-mana ajaran yang lazimnya menghancurkan kekuatan itu, ia akan sampai ke tahap berdosa. Allah Ta’ala memberi perintah untuk membetulkannya dan tidak suka menjadikannya sia-sia sebagaimana firman-Nya INNAL LAAHA YA’MURU BIL ‘ADLI WAL IHSAAN (An-Nahal:91) Adil adalah suatu perkara yang melaluinya semua mendapat manfaat. Ajaran Hazrat Maseeh alaihissalam iaitu jika engkau melihat dengan pandangan jahat, maka mata harus dikeluarkan. Di sini juga menghancurkan kekuatan kerana ia tidak mengajarkan bahawa engkau jangan sesekali melihat wanita yang bukan muhrim, tetapi sebaliknya memberi izin bahawa engkau boleh melihat tetapi jangan dengan pandangan zina. Di sini tidak dilarang untuk melihat. Kita harus lihat, selepas melihat hendaklah lihat apa kesan ke atas kekuatannya. Kenapa tidak hanya seperti Al-Qur’an yang melarang melihat benda-benda yang boleh menggelincirkan mata. Dan kasihan sekiranya mata yang merupakan benda yang bermanfaat dan berharga itu disia-siakan.

ISLAMI PARDAH

Kebelakangan ini dipertikaikan mengenai masalah pardah (hijab), tetapi orang-orang ini tidak tahu bahawa pardah dalam Islam itu bukanlah kurungan, malah ia merupakan satu benteng yang boleh menghalang lelaki dan wanita saling tidak melihat antara satu dengan yang lain. Apabila ada pardah, maka akan terhindar dari keburukan. Seorang yang suka akan keadilan boleh mengatakan bahawa di kalangan orang-orang yang seperti itu, di mana ada lelaki dan wanita yang bukan muhrim duduk bersama tanpa ada perasaan risau, boleh berjumpa tanpa rasa takut, lebih-lebih lagi dalam keadan berseronok, bagaimana mereka boleh terhindar dari dorongan nafsu mereka? Banyak kali kedengaran dan kelihatan bahawa lelaki dan wanita yang bukan muhrim berada dalam satu rumah yang sepi, pintu tertutup, mereka itu tidak tahu akan perasaan malu, seolah-olah hal ini dianggap bertamadun. Untuk menghentikan akibat buruk daripada perbuatan ini, syariat Islam sama sekali tidak membenarkan perkara ini. Dalam keadaan ini telah dikatakan bahawa apabila lelaki dan wanita yang bukan muhrim berkumpul bersama, maka yang ketiga dari mereka adalah syaitan. Jadi, renunglah akibat buruk perbuatan ini. Beberapa tempat di Eropah, ada cara hidup yang sangat memalukan. Ini adalah akibat mereka. Jika hendak menyelamatkan suatu benda dari dikhianati, maka peliharalah. Jika kamu tidak jaga dan lindungi, dan kamu beranggapan orang ini baik, maka ingatlah bahawa benda itu akan hancur. Ajaran Islam itu sangat cantik kerana telah memisahkan lelaki dan wanita agar terhindar dari keburukan, dan memastikan hidup insan itu tidak musnah dan huru-hara, sebagaimana yang kita lihat di Eropah, di mana hari demi hari banyak tempat peperangan dan kes bunuh diri. Beberapa wanita yang baik menjalani kehidupan sebagai pelacur adalah hasil dari amalan memberi kebenaran untuk melihat wanita yang bukan muhrim.

MEMBETULKAN KEKUATAN INSAN DAN
PENGGUNAANNYA

Sebanyak mana kekuatan yang dikurniakan oleh Allah Ta’ala, ia tidaklah diberikan supaya disia-siakan, tetapi ia hendaklah dibetulkan dan digunakan dengan cara yang betul. Sebab itulah insan tidak diajarkan tentang kekuatan kelelakian dan mengeluarkan mata, tetapi bertujuan supaya ia digunakan dengan cara yang dibolehkan dan membuat penyucian diri. Sebagaimana firman Allah Ta’ala QOD AFLAHAL MU’MINUUN (Al-Mu’minuun:2). Demikian juga apa yang diperkatakan di sini. Cara kehidupan orang muttaki diperlihatkan sehingga akhirnya dikatakan WA ULAA’IKA HUMUL MUFLIHUUN (Al-Baqarah:6) yakni orang-orang yang berjalan atas landasan ketakwaan, yang beriman kepada perkara ghaib, teratur dalam mendirikan solat, memberikan apa yang telah dikurniakan oleh Allah, beriman kepada kitabullah yang telah lalu dan yang sedia ada tanpa memikirkan bahaya akan dirinya, dan pada yang akhir juga dia yakin, inilah orang-orang yang mendapat hidayat, mereka itu berada di atas jalanan yang terus maju bersama-sama sehingga mencapai kejayaan. Jadi, inilah orang-orang yang berjaya, yang mencapai apa yang diinginkan. Dan mereka sudah terlepas dari jalan-jalan bahaya, sebab itu Allah Ta’ala telah memberikan kitab sebagai ajaran kepada kita sejak dari awal lagi, yang di dalamnya ada wasiyat-wasiyat taqwa.

Jadi, anggota jemaatku hendaklah meletakkan kesedihan ini melebihi semua kesedihan duniawi dalam diri masing-masing, iaitu dalam diri mereka itu ada ketakwaan atau tidak?

JALANI KEHIDUPAN YANG MISKIN

Untuk orang yang bertaqwa ada satu syarat iaitu menjalani kehidupan yang miskin. Ini adalah satu cabang dari ketakwaan, melaluinya kita dapat menghadapi kemarahan yang tidak patut. Untuk orang-orang yang berilmu dan siddiq hendaklah menghindari kemarahan yang sangat susah dan berat. Orang beragama yang sombong muncul dari kemarahan dan demikian juga kemarahan itu akibat daripada orang beragama yang sombong. Ini kerana kemarahan itu berlaku apabila insan mengagungkan dirinya lebih daripada yang lain. Aku tidak mahu anggota jemaatku ada yang saling rendah-merendahkan, atau sombong atau memandang hina orang lain. Tuhan sahaja yang tahu siapa yang besar dan siapa yang kecil. Ini adalah sejenis perbuatan hina, jika dalam diri seseorang ada kebencian, dikhuatiri kebencian ini akan tumbuh seperti biji benih sehingga boleh menghancurkan dirinya. Beberapa orang yang berjumpa orang mulia berlaku sangat hormat, tetapi orang yang mulia adalah mereka yang mendengar perkara orang miskin dari kemiskinan, menghiburkan hatinya, menghormati apa yang diperkatakannya, tidak mengeluarkan kata-kata kesat yang boleh menjadikannya sedih. Tuhan berfirman WALAA TANAA BAZUU BIL ALQOOBI, BI’SAL ISMUL FUSUUQU BA’DAL IIMAAN. WAMALLAM YATUB FA’ULAA’IKA HUMUZ ZOOLIMUUN (Al-Hujurat:12) yakni janganlah kamu saling mengata sesama kamu, perbuatan itu adalah jahat dan buruk. Jika ada orang yang mengata orang lain, dia tidak akan mati selagi melainkan dia mengalami keadaan sedemkian dalam hidupnya. Jangan menganggap saudara kamu itu hina, kamu minum air dari sumber yang sama, siapa yang tahu nasib seseorang yang banyak minum air. Kemuliaan dan keagungan bukan berdasarkan usul duniawi, di sisi Tuhan, orang yang mulia ialah orang yang bertakwa. INNA AKRAMAKUM ‘INDALLAAHI ATQOOKUM INNALLAAHA ‘ALIIMUN KHOBIIR (Al-Hujurat:14)

KEPELBAGAIAN ZAT

Perbezaan dalam zat manusia bukanlah asas kemuliaan. Allah Ta’ala menciptakan perbezaan-perbezaan ini hanyalah untuk kenal-mengenal. Sekarang ini pun sudah susah untuk mengenal secara pasti selepas beberapa generasi. Jadi, bukanlah ciri seorang muttaqi untuk tenggelam dalam perselisihan peribadi. Apabila Allah Ta’ala telah membuat keputusan bahawa di sisi Aku tidak ada nilainya salasilah keluarga. Kemuliaan dan keagungan yang hakiki hanyalah dari sudut taqwa.

(Malfoozaat Jilid 1, halaman 20-23)

>>>>>>>>>>>>>>> <<<<<<<<<<<<<<<

Diterjemahkan oleh

Salahuddin Syed Ali
Lingkungan, Sabah.
(25.11.2011)


Tuesday, November 15, 2011

Malfoozaat Jilid 1_07

MALFOOZAAT

HAZRAT MASEEH MAU’UD ALAIHISSALAM

>>>>>>>>>>>>>>> <<<<<<<<<<<<<<<

DUA JALAN MENUJU KEMAJUAN

SULUK

Orang-orang Sufi telah menulis dua jalan menuju kemajuan. Satu adalah suluk dan kedua adalah jazab. Suluk adalah mereka yang berfikir dengan penuh kesedaran dan bijak lalu memilih jalan Allah dan Rasul sallallaahu alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah: QUL INKUNTUM TUHIBBUNALLAAHA FATTABI’UUNII YUHBIBKUMULLAH (Ali Imran:32) yakni jika kamu ingin dicintai Allah, maka ikutilah Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam. Inilah Rasul pemberi hidayat yang sempurna, di mana telah menanggung pelbagai kesusahan bahawa dunia tidak memberi perhatian kepada baginda. Satu hari pun baginda hidup tidak tenteram. Zaman sekarang ini, pengikut baginda yang sejati ialah mereka yang mengikuti setiap qoul dan fi’il baginda dengan penuh kesungguhan. Pengikut sejati itu adalah mereka yang benar-benar mengikuti segala-galanya secara menyeluruh. Orang yang hanya inginkan kesenangan tidak disukai oleh Allah Ta’ala, malah mereka akan berada di dalam kemurkaan Allah Ta’ala. Perintah Allah di sini untuk mengikuti Yang Mulia Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam, maka perbuatan seorang salik yang sepatutnya ialah pertama sekali hendaklah melihat dengan sempurna sejarah Yang Mulia Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam, kemudian barulah mengikutinya. Inilah yang dinamakan sebagai suluk. Dalam jalan ini sangat banyak musibat dan kesusahan, hanya setelah menanggung segalanya, barulah insan menjadi salik.

JAZAB

Tingkat jazab ini lebih tinggi berbanding salik. Allah Ta’ala tidak hanya meletakkan mereka pada tingkat suluk sahaja, malah Dia akan menarik ke arah-Nya. Semua nabi adalah majzub. Semasa ruh seorang insan berperang dengan musibat-musibat, disebabkan kematangan dan pengalamannya, ruh mereka menjadi bersinar. Sebagaimana besi dan kaca, walaupun ia memang mempunyai ciri bersinar dalam dirinya, tetapi ia hanya akan bersinar setelah dibakar atau digilap sehingga di dalamnya boleh melihat wajah orang yang melihat. Mujahadah juga berlaku ketika melakukan pembersihan. Pembersihan hati hendaklah dibuat sehingga wajah kelihatan di sana. Apa yang dimaksudkan dengan wajah kelihatan? Ia adalah mentasdiqkan ayat TAKHALLAQUU BI AKHLAAQILLAAH. Hati seorang salik adalah kaca di mana musibat dan kesusahan menjadi penggilapnya. Biasan akhlak nabi sallallaahu alaihi wasallam kelihatan dalam dirinya. Ini terjadi selepas banyak melakukan mujahadah dan tazkiyah sehingga dalam dirinya tidak ada lagi sebarang kotoran, kemudian barulah mendapat darjat ini. Setiap mukmin perlu melakukan pembersihan seperti itu sampai satu tahap. Tidak ada mukmin yang akan mendapat keselamatan tanpa menjadi seperti kaca. Ahli suluk sendiri melakukan pembersihan ini, menanggung musibat-musibat, tetapi ahli jazab ini diletakkan dalam musibat-musibat. Tuhan sendiri yang menjadi Pembersih kepadanya dan dibersihkan dari segala musibat dan kesusahan sehingga dikurniakan darjat kaca. Sebenarnya, salik dan majzub sama sahaja kesudahannya, jadi muttaqi ada dua bahagian, suluk dan jazab.

IMAN BIL GHAIB

Sebagaimana yang telah saya jelaskan mengenai ketakwaan, ia memerlukan kerja keras. Sebab itu dikatakan HUDAL LIL MUTTAQIIN. ALLADZIINA YU’MINUUNA BIL GHAIBI (Al-Baqarah:3,4) Di dalamnya menuntut satu kerja keras. Membawa iman bil ghaib dalam menghadapi kesaksian perlu sejenis kerja keras. Jadi, untuk orang muttaqi ada satu had kerja keras kerana apabila dia mendapat darjat salih, maka yang ghaib tidak lagi ghaib baginya, kerana dari dalam diri orang salih itu ada terbuka satu sungai yang keluar dari dalamnya dan boleh sampai kepada Tuhan. Dia melihat Tuhan dan kasih sayang Tuhan dengan matanya bahawa MAN KAANA FII HAAZIHII A’MAA FA HUWA FIL AAKHIRATI A’MAA (Bani Israil:73) Dari situ jelas bahawa selagi insan belum berhasil mendapatkan cahaya  sepenuhnya di dunia ini, dia tidak akan dapat melihat wajah Tuhan. Jadi, pekerjaan seorang muttaqi ialah sentiasa menyediakan surma yang daripadanya, sesuatu yang menyebabkan kerohaniannya menurun akan menjadi jauh. Sekarang jelas bahawa muttaqi adalah buta pada permulaannya. Namun, dengan pelbagai usaha dan tazkiyah maka dia berhasil mendapat nur. Jadi, setelah tidur, jaga, makan lalu menjadi soleh, maka iman bil ghaib tidak kekal, dan kerja keras juga turut berakhir. Sebagaimana Rasululullah sallallaahu alaihi wasallam BI RA’YIL ‘AIN melihat pemandangan syurga dan neraka serta yang lain di dalam alam ini. Seorang muttaqi yang diakui dalam satu bentuk iman bil ghaib, semuanya telah disaksikan oleh Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam. Dalam ayat ini mengisyaratkan bahawa walaupun seorang muttaqi itu buta dan bekerja keras dalam kesusahan, tetapi orang soleh berada dalam tempat yang aman. Dan jiwanya adalah nafsu muthmainnah. Orang muttaqi mempunyai bentuk iman bil ghaib dalam dirinya yang berjalan dengan cara yang sangat gelap. Dan dia tidak tahu sedikit pun. Atas setiap perkara menjadi iman bil ghaib baginya. Inilah dia siddiq dan untuk orang siddiq janji Allah Ta’ala ialah mereka akan mendapat kejayaan. ULAA IKA HUMUL MUFLIHUUN (Al-Baqarah:6)

MENDIRIKAN SOLAT

Kemudian, tanda seterusnya yang harus ada dalam diri seorang muttaqi ialah WA YUQIIMUUNAS SHOLAAT (Al-Baqarah:4) yakni mendirikan solat. Di sini digunakan perkataan mendirikan, ia juga mengisyaratkan ke arah bekerja keras yang merupakan ciri seorang muttaqi. Maknanya, apabila dia mula mendirikan solat, maka dia berhadapan dengan berbagai perasaan waswas, di mana walaupun dia berusaha mendirikan solatnya, tetap sahaja jatuh bangun. Apabila dia mengucapkan ALLAAHU AKBAR, maka akan muncul satu rasa waswas dalam hatinya yang akan membawa dia ke mana-mana arah dalam kerisauan. Setiap saat sentiasa berperang, tetapi solat yang jatuh bangun itu didirikan dengan penuh susah payah. Berkali-kali dia membaca IYYAA KANA’BUDU WA IYYAA KANAS TA’IIN memohon doa supaya solatnya dapat didirikan dan menginginkan petunjuk SHIROOTAL MUSTAQIIM yang dengan itu solatnya boleh berdiri. Dalam pertarungan dengan rasa waswas ini seorang muttaqi sama seperti anak kecil, yakni mereka jatuh bangun di hadapan Tuhan, menangis dan berkata: aku sedang AKHLADAA ILAL ARDHI (Al-A’raaf:177). Jadi, inilah peperangan dalam solat yang harus dihadapi oleh seorang muttaqi dengan jiwanya dan atas sebab itu jugalah dia sentiasa mendapat ganjaran yang berterusan.

Beberapa orang ada yang hendak menjauhkan dengan segera rasa waswas mereka dalam solat sedangkan tujuan WA YUQIIMUUNAS SHOLAATA adalah lain. Adakah Tuhan tidak tahu? Ucapan Hazrat Syeikh Abdul Qadir Jailani rahmatullah alaihi ialah pahala akan berterusan selagi mujahadah masih ada, dan apabila mujahadah sudah tiada, maka pahala juga akan berakhir. Seolah-olah shoum dan sholat dikatakan sebagai amalan selain di dalamnya juga ada usaha keras menentang waswas, tetapi apabila di dalamnya sudah mendapat kedudukan yang tinggi dan orang yang mengerjakan puasa dan solat itu sudah bebas dari usaha keras takwa dan sudah diwarnai dengan kesalehan, maka shoum dan sholat bukan lagi amalan. Dalam hal ini dia telah ditanya bahawa adakah sekarang solat sudah dimaafkan? Kerana pahala itu hanya diberikan semasa kerja keras dilakukan. Jadi, sebenarnya di sini solat sekarang bukan lagi amalan tetapi satu nikmat. Solat itu satu bahagian makanan baginya yang dinyatakan sebagai QURRATUL AIN, seolah-olah ini adalah nilai syurga.

Orang yang bermujahadah dalam pertarungan, mereka itu berperang. Dan mereka ini telah mendapat keselamatan. Maksudnya ialah apabila suluk seseorang itu berakhir maka musibat juga akan berkahir. Misalnya apabila seorang mukhannas mengatakan bahawa dia tidak lagi terdorong untuk melihat mana-mana wanita, apa nikmat atau pahala yang dia akan dapat? Dia tidak lagi mempunyai sifat berpandangan berahi. Tetapi apabila seorang lelaki normal berbuat seperti itu, maka sudah pasti dia akan mendapat pahala. Demikian juga insan yang melalui ribuan tempat sehingga menyebabkan dia berpengalaman dalam beberapa perkara yang menjadikannya kuat. Dia telah berdamai dengan jiwanya. Sekarang dia berada dalam syurga. Tetapi pahala seperti yang dahulu tidak lagi dia perolehi. Dia telah melakukan perniagaan di mana sekarang sedang menikmati keuntungan, namun keadaan yang dahulu tidak kekal. Ada satu perkara dalam diri manusia, dengan terus menerus bekerja keras, ia akhirnya menjadi kebiasaan. Seseorang insan yang secara tabi’i merasa seronok, dia tidak mahu suatu pekerjaan itu disingkirkan daripadanya. Secara semulajadi dia tidak akan berganjak dari situ. Jadi, had ittiqa dan taqwa tidak terbuka secara keseluruhan, malah ia sejenis dakwaan.

INFAQ MIN RIZQILLAH

Kemudian, dalam ciri-ciri orang bertakwa ialah ayat WA MIMMAA ROZAQNAAHUM YUNFIQUUN (Al-Baqarah:4), di sini untuk orang muttaqi digunakan lafaz MIMMAA kerana waktu itu dia berada dalam keadaan buta. Sebab itu apa sahaja yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya, daripadanya sedikit diberikan atas nama Tuhan. Apa yang benar ialah jika dia mempunyai mata, maka akan melihat bahawa dia tidak memiliki apa-apa. Semuanya adalah kepunyaan Tuhan. Ini adalah hijab yang perlu dalam ittiqa. Tuntutan keadaan ittiqa ini telah menyebabkan muttaqi memberikan sesuatu apa yang telah diberikan Tuhan. Rasul Karim sallallaahu alaihi wasallam ketika hari-hari kewafatan, baginda selalu bertanya kepada Hazrat Aisyah radiallaahu anha; masih adakah sesuatu di rumah? Dapat diketahui bahawa ada satu dinar. Dikatakan bahawa ini jauh daripada kebiasaan baginda di mana ada suatu benda yang disimpan. Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam telah melalui darjat ittiqa dan mencapai kesolehan. Sebab itu MIMMAA tidak ada dalam ciri-cirinya kerana orang itu buta jika masih menyimpan sesuatu dan juga memberikan sesuatu kepada Tuhan, tetapi ini adalah muttaqi yang biasa kerana dengan memberikan sesuatu pada jalan Tuhan, ia juga berperang dengan jiwanya. Akibatnya ada yang dia simpan dan ada yang dia berikan. Namun, Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam telah memberikan semuanya pada jalan Tuhan dan tidak menyimpan sedikitpun.

Sebagaimana dalam karangan Dharam Mahutsu ada tiga keadaan insan yang disentuh bermula dari peringkat bawah sehingga peringkat paling atas. Demikian juga Al-Qur’an telah datang untuk menyempurnakan semua tingkatan kemajuan insan yang bermula dari ittiqa. Ini adalah satu jalan yang penuh dengan usaha keras. Ini adalah medan yang sangat berbahaya. Pada tangan mereka ada pedang dan musuh juga ada pedang. Jika selamat, maka ia telah mendapat keselamatan. Jika tidak, maka mereka akan menjadi ASFALIS SAAFILIIN. Jadi di sini, dalam sifat muttaqi tidak ada dikatakan bahawa apa sahaja yang kami berikan, semuanya hendaklah dibelanjakan. Dalam diri muttaqi itu tidak ada kekuatan iman seperti yang dimiliki oleh seorang nabi, yakni pembimbing kita yang sempurna memberikan semua apa yang telah dikurniakan oleh Tuhan kepadanya. Sebab itu lebih awal diletakkan cukai yang kecil supaya apabila sudah merasa intinya, maka mereka bersedia untuk merendah diri.

MAKNA REZEKI

WA MIMMAA ROZAQNAAHUM YUNFIQUUN (Al-Baqarah:4), rezeki di sini bukan hanya harta, malah apa sahaja yang diberikan kepada mereka sama ada ilmu, kebijaksanaan, kesihatan, semua ini termasuk dalam rezeki. Daripada itu semua juga hendaklah dibelanjakan sedikit pada jalan Tuhan.

(Malfoozaat Jilid 1, halaman 17-20)

>>>>>>>>>>>>>>> <<<<<<<<<<<<<<<

Diterjemahkan oleh

Salahuddin Syed Ali
Lingkungan, Sabah.
(14.11.2011)